Lejong ke Labuan Bajo, Kisah Kesederhanaan Penuh Makna

“Jika tidak ada beliau, mungkin buku ini tidak akan ada.
Beliau ini yang mendorong dan selalu mendengarkan keluh kesah saat saya merasa ragu,” demikian kisah Tata – sapaan akrabnya mengingat kenanangannya bersama sang editor yang telah mengadap Sang Pencipta beberapa bulan lalu, tepat saat buku ini hendak naik cetak.
“Satu pesan beliau yang akan saya pegang adalah: jika kamu ragu, ingatlah patokannya adalah bahwa tulisanmu harus memihak kepada kehidupan,” kenangnya.
Sejalan dengan pesan tersebut, buku Lejong ke Labuan Bajo lebih banyak menulis tentang cerita masyarakat setempat yang masih hidup dalam kesederhanaan.
Ada kisah keluarga Suciati yang menempati rumah panggung.
Juga anak-anak SD dengan cita-cita yang setinggi langit, meski fasilitas belajar minim dan berdampingan dengan sapi-sapi sekitar.
Hampiri pula uniknya warga Pulau Rinca yang berdampingan dengan Komodo.
Dari Labuan Bajo ini, penulis juga ingin agar kita bisa belajar untuk hidup dalam damai, meski meyakini dan menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda.
Buku Lejong ke Labuan Bajo resmi dirilis Minggu hari ini. Sang Penulis Ketut Efrata ingin berbagi kisah Kesederhanaan penuh makna warga Labuan Bajo
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News