Bukan MRT atau LRT, Bali Pilih Trem Listrik Rute Bandara-Canggu
Kehadiran trem listrik ini diproyeksikan mampu menjadi tulang punggung konektivitas pariwisata Bali.
"Dalam kondisi operasional maksimal, trem ini mampu mengangkut 15 ribu hingga 20 ribu penumpang dalam satu waktu, atau mencapai 60 ribu penumpang per hari.
Ini diproyeksikan dapat mengalihkan dan mengakomodasi hingga 40 persen tingkat kepadatan mobilitas di jalur Bandara–Canggu," kata Koster.
Koster menambahkan bahwa beralihnya wisatawan maupun warga lokal ke trem akan secara signifikan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi serta meningkatkan kenyamanan berwisata.
Proyek transportasi masa depan Bali ini ditargetkan mulai melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Maret 2027.
Target operasional trase pertama pada 2028, sedangkan target operasional penuh hingga Canggu pada 2029.
Pasca-penandatanganan kerja sama ini, Pemprov Bali dan PT KAI segera melangkah ke tahap studi teknis dan penyusunan kajian lanjutan.
Pemprov Bali berkomitmen melakukan pendekatan humanis melalui sosialisasi intensif kepada masyarakat, pelibatan Desa Adat, serta koordinasi erat dengan para
pelaku industri pariwisata dan akomodasi di sepanjang jalur lintasan. (lia/JPNN)
Berbeda dengan kota-kota besar lain yang memilih sistem MRT atau LRT, PT KAI memutuskan untuk mengaplikasikan konsep trem listrik berbasis baterai di Bali
Redaktur & Reporter : Ali Mustofa
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News
