Dampak Kemarau Ekstrem di Bali Meluas, 529 KK Terancam Krisis Air Bersih
bali.jpnn.com, DENPASAR - Musim kemarau 2026 yang berlangsung lebih panjang dan serba kering mulai memicu krisis air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Bali.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat, sebanyak 529 kepala keluarga (KK) di 14 desa/kelurahan yang tersebar di tiga kabupaten terdampak langsung oleh bencana kekeringan ini.
Berdasarkan data pemantauan BPBD Bali periode 11 April hingga 28 Agustus 2026, wilayah yang dilanda krisis air meluas di Kabupaten Buleleng, Jembrana dan Karangasem.
Krisis air bersih di Kabupaten Buleleng melanda warga Desa Sinabun, Desa Madenan, dan Desa Menyali.
Di Kabupaten Jembrana, krisis air bersih terjadi di Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, Desa Pergung, Kelurahan Bale Agung, Desa Berangbang, Desa Yeh Embang Kauh, Desa Tukadaya, dan Desa Manistutu.
Krisis air bersih di Kabupaten Karangasem terjadi di Desa Baturinggit, Desa Tianyar Timur, dan Desa Tianyar.
Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Teja Bhusana mengungkapkan bahwa kondisi iklim tahun ini membutuhkan perhatian ekstra karena diprediksi oleh BMKG akan lebih kering disertai suhu udara yang relatif lebih tinggi dari biasanya.
"Kondisi musim kemarau tahun ini perlu menjadi perhatian bersama.
Musim kemarau 2026 yang berlangsung lebih panjang dan serba kering mulai memicu krisis air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Bali.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News
